Oleh : I Nyoman Sugiana ( Ketua PHDI Kab. Luwu Timur-Sulawesi Selatan)
Tiga puluh delapan tahun bukanlah sekadar angka bagi Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI). Di Kabupaten Luwu Timur, usia itu adalah rekam jejak pengabdian. Rekam jejak perempuan-perempuan yang setia merawat nilai, menjaga harmoni, dan memastikan keluarga tetap menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat.
Dalam momentum Hari Ulang Tahun ke-38 WHDI, menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, ia adalah ruang refleksi tentang peran perempuan, tentang keluarga, dan tentang arah masa depan bangsa.
Mengusung tema “Pemberdayaan Perempuan dalam Membentuk Keluarga Sehat dan Sejahtera Menuju Indonesia Emas 2045,” peringatan tahun ini terasa kontekstual. Indonesia Emas 2045 bukanlah cita-cita yang lahir dalam ruang hampa. Ia adalah visi besar yang harus dipersiapkan sejak hari ini, dimulai dari unit sosial paling dasar yakni : Keluarga.
Dalam pandangan Hindu, perempuan memiliki posisi yang sangat strategis. Konsep stree shakti menempatkan perempuan sebagai kekuatan utama dalam keluarga , energi yang menjaga keseimbangan, menumbuhkan kasih, dan mewariskan nilai-nilai dharma. Ibu adalah guru pertama dan utama. Dari sikap dan tutur katanya, anak belajar tentang kejujuran, ketekunan, dan tanggung jawab.
Karena itu, pemberdayaan perempuan tidak boleh dimaknai secara sempit. Ia bukan semata soal kemandirian ekonomi atau peningkatan keterampilan teknis. Pemberdayaan juga menyangkut penguatan spiritualitas, ketahanan mental, kecerdasan emosional, serta keluasan wawasan dalam menghadapi perubahan zaman yang kian cepat.
Perempuan yang berdaya akan melahirkan keluarga yang tangguh. Keluarga yang tangguh akan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter. Dan generasi berkarakter inilah yang kelak menjadi penopang Indonesia Emas, bukan hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam moral dan etika.
Di Luwu Timur, keberagaman adalah kenyataan sosial yang dirawat bersama. Umat Hindu, sebagai bagian dari masyarakat daerah ini, memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun harmoni dan kemajuan. Peran WHDI menjadi strategis, tidak hanya dalam pembinaan internal umat, tetapi juga dalam kontribusi sosial yang lebih luas.
Ke depan, penguatan pembinaan keluarga berbasis ajaran dharma perlu terus dilakukan. Program pemberdayaan ekonomi kreatif perempuan harus dikembangkan agar perempuan semakin mandiri. Pendidikan karakter anak sejak usia dini perlu menjadi perhatian utama. Sinergi dengan pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan lainnya juga menjadi kunci agar upaya membangun keluarga sehat dan sejahtera berjalan efektif.
Peringatan HUT ke-38 WHDI di Luwu Timur menjadi penanda bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap dalam pembangunan. Mereka adalah pilar. Dari rumah yang sederhana, dari doa yang dipanjatkan setiap hari, dari nilai yang diajarkan dengan kesabaran masa depan bangsa disemai.
Menuju 2045, perjalanan masih panjang. Namun jika keluarga dijaga, perempuan dikuatkan, dan nilai-nilai dharma terus dihidupkan, maka Indonesia Emas bukanlah angan-angan. Ia menjadi keniscayaan yang sedang kita siapkan, hari ini, bersama. (#)

