LUWU TIMUR — Lapangan Kecamatan Angkona, Sabtu, 25 April 2026, berubah menjadi ruang temu ribuan umat Hindu dari berbagai penjuru Luwu Timur. Mereka datang untuk merayakan Dharma Santi Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948. Di tengah suasana yang khidmat sekaligus cair, acara ini menjelma lebih dari sekadar ritual tahunan , ia menjadi panggung konsolidasi sosial dan peneguhan harmoni.
Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam hadir bersama jajaran pemerintah daerah, staf ahli, Asisten III, pimpinan organisasi perangkat daerah, hingga para camat. Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah juga tampak, di antaranya Wakapolres, perwakilan TNI melalui pabung, serta Kejaksaan melalui Kepala Seksi Intelijen. Ketua DPRD Luwu Timur diwakili Muhammad Iwan.
Dari luar daerah, hadir pula tokoh agama Hindu dari Bali, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda, yang menyampaikan dharma wacana atau pesan spiritual. Sementara dari tingkat provinsi, pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulawesi Selatan dan Bimas Hindu turut ambil bagian, menandai kuatnya jejaring kelembagaan dalam kegiatan ini.

Ketua panitia, Putu Gede Sudarsana, menyebut Dharma Santi sebagai ruang merawat kebersamaan di tengah keberagaman. Tema yang diusung ” sudaiva Kutumbakam, Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju” menjadi benang merah yang menautkan dimensi keagamaan dengan semangat kebangsaan.
“Tujuan utamanya mempererat persaudaraan, sekaligus mendorong pengamalan nilai-nilai ajaran Hindu dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Sudarsana.
Tak hanya seremoni, kegiatan ini juga dirancang menyentuh aspek sosial. Panitia menggelar donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, serta program “Hindu Berbagi” bagi masyarakat kurang mampu. Di sela itu, dialog keagamaan (dharma tula) menjadi ruang refleksi, sebelum acara ditutup dengan hiburan dan ramah tamah.
Sekitar 1.000 peserta terlibat, terdiri atas unsur lembaga keagamaan, masyarakat desa dan kecamatan, hingga aparatur sipil negara, TNI, dan Polri. Anggaran kegiatan mencapai sekitar Rp130 juta, bersumber dari PHDI, sumbangan lembaga keagamaan, partisipasi ASN, serta dukungan sponsor dan donatur.
Di Angkona, Dharma Santi tahun ini memperlihatkan satu hal, ritual keagamaan, ketika dikelola dengan pendekatan inklusif, bisa menjadi instrumen sosial yang efektif merawat kohesi, memperkuat toleransi, dan menjaga denyut harmoni di daerah yang majemuk.

