Februari 25, 2026

Kekompakkan Tiada Tara :  Camat dan Kapolsek Tomoni Timur di Atas Tanggul Alam Buana 

Bekerja adalah melakukan kewajiban, tapi hadir di tengah derita sesama adalah soal kemanusiaan.” Begitulah kiranya yang tersirat dari tatapan dua lelaki di atas gundukan batu itu.

Di sana, di Desa Alam Buana, ketika sungai tak lagi mampu membendung amarahnya dan tanggul jebol menyerah pada arus, kita tidak melihat pangkat yang pongah. Kita melihat Camat dan Kapolsek Tomoni Timur berdiri bukan di atas permadani, melainkan di atas bongkahan batu yang keras dan tanah yang lumat oleh air.

Seorang pemimpin, tak boleh hanya pandai bersolek di balik meja yang mengkilap. Ia harus berani turun, mengotori sepatunya, dan mencium bau tanah yang basah. Di tengah desau angin perkebunan sawit dan hamparan sawah berlumpur terjadi sebuah diplomasi sunyi sebuah koordinasi yang tidak lahir dari perintah-perintah kaku, melainkan dari kesadaran akan keselamatan rakyat yang terancam bahaya.

Mereka berdiri berhadapan, bertukar pikir dalam gerak tangan yang lugas. Mencari jalan keluar bagi tanggul yang robek itu bukan sekadar urusan teknis batu dan semen, melainkan urusan menjaga harapan orang-orang desa agar tetap kering dan tenang di rumah mereka.

Kekompakan Forkopimcam Tomoni Timur di titik ini adalah bukti, bahwa di mana ada kemauan untuk bicara dengan hati, di situ solusi akan lahir. Sebab pada akhirnya, sejarah hanya akan mencatat mereka yang mau turun tangan saat bumi sedang diguncang cobaan. (#)

Berita Terkait