Februari 25, 2026

Refleksi ​Setahun Ibas – Puspa Memimpin Luwu Timur : Kala Janji Menjelma Jadi Bakti

​Oleh : Camat Tomoni Timur

Matahari telah setahun penuh melintasi langit Luwu Timur sejak H. Irwan Bachri Syam dan Hj. Puspawati Husler mengucap sumpah di bawah panji kenegaraan sebagai Bupati dan wakil bupati Luwu Timur.

Sejak 20 Februari 2025, saat langkah mereka bermula dari Istana Negara, sebuah babak baru mulai ditulis di Bumi Batara Guru. Bukan dengan narasi muluk yang mengawang, melainkan dengan kerja-kerja yang berakar pada tanah dan keringat rakyatnya.

​Ibas dan Puspa, begitu tagline karib mereka disapa, nampaknya paham benar bahwa memimpin bukanlah tentang duduk di kursi empuk perkantoran. Mereka merombak sebuah tradisi lama, para abdi negara yang biasanya menunggu di balik meja, kini dipaksa turun, menjemput bola ke rumah-rumah warga. Sebuah ikhtiar untuk memangkas jarak, waktu, dan biaya yang selama ini kerap memberatkan rakyat kecil.

​Pendidikan dan Harapan yang Bersemi

​Bagi suatu bangsa, pendidikan adalah modal utama untuk tegak berdiri di masa depan. Di tangan Ibas-Puspa, seragam bukan lagi sekadar kain penutup raga, melainkan simbol kesetaraan. Dari jenjang TK hingga SMP, anak-anak Luwu Timur kini melangkah dengan sepatu, tas, hingga topi yang disiapkan pemerintah daerah.

​Tak berhenti di situ, bagi generasi bangsa yang bergelut dengan bangku kuliah serta biaya semester di perguruan tinggi, beasiswa ditingkatkan menjadi Rp 6 juta per tahun, dimulai sejak semester pertama. Bahkan, pintu menuju jenjang magister dan doktoral dibuka lebar, sebuah investasi jangka panjang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa di ufuk Timur Sulawesi Selatan.

​Memuliakan Tubuh dan Rohani

​Dalam hal kesehatan, kebijakan mereka terasa seperti pelukan hangat. Layanan kesehatan tak lagi sekadar urusan puskesmas. Warga yang harus dirujuk hingga ke Makassar kini tak perlu bingung mencari sandaran ; fasilitas kamar pasien disediakan, lengkap dengan armada ambulans dan mobil jenazah yang siaga setiap waktu.

​Sisi batiniah pun tak luput dari perhatian. Ada penghargaan bagi ketulusan. Para imam masjid, pendeta, pandito, hingga guru mengaji dan guru sekolah minggu, diberikan apresiasi berupa wisata religi ke tanah-tanah suci masing-masing agama. Sebuah cara sederhana namun mendalam untuk menghargai mereka yang menjaga moralitas dan spiritualitas di tengah masyarakat majemuk.

​Menghapus Beban, Merajut Masa Tua

​Mungkin kebijakan yang paling terasa di saku rakyat adalah keberanian menghapus berbagai pungutan pajak dan retribusi yang selama ini dianggap membebani. Namun, permata dari kebijakan mereka adalah perhatian bagi para tetua. Tunjangan Hari Tua bagi Lansia sebesar Rp 1 juta per bulan menjadi saksi bahwa pemerintah tak ingin membiarkan orang tua mereka merenta dalam kesusahan. Nilai ini menjadi salah satu yang tertinggi di republik ini, sebuah tanda bakti anak kepada orang tuanya.

​”Kepemimpinan bukan sekadar memegang kemudi, tapi memastikan setiap penumpang merasa aman dan sampai ke tujuan dengan martabat yang terjaga.”

​Wajah Baru Malili dan Kebanggaan di Atue

​Wajah infrastruktur pun mulai bersolek dengan napas kekinian. Jalur-jalur ekonomi menuju Malili mulai diperlancar, seolah memberi nadi baru bagi perputaran rezeki warga. Di Desa Atue, sebuah simbol kebanggaan baru berdiri tegak yakni Rumah Sakit Khusus Gigi dan mulut. Fasilitas yang jarang ditemui di kabupaten lain ini menjadi bukti bahwa Luwu Timur ingin melampaui zamannya.

​Setahun memanglah waktu yang singkat dalam sejarah, namun dalam waktu yang singkat itu, Ibas dan Puspa telah menunjukkan bahwa konsistensi adalah kunci. Meski kadang tantangan kerap muncul, langkah mereka tetap tegap. Sebab, pada akhirnya, kepuasan rakyat yang terpahat dalam data dan kenyataan harian adalah rapor yang tak bisa dimanipulasi oleh siapa pun.

​Luwu Timur kini sedang bersolek, bukan untuk pamer kemewahan, tapi untuk memastikan setiap warganya bisa berkata : “Kami berdaulat di tanah sendiri.” (#

Berita Terkait