LUWU TIMUR (Wartabirokrasi.com)— Suasana halaman Gereja Toraja Jemaat Baku, Desa Pattengko, Kecamatan Tomoni Timur, Sabtu (25/04), mendadak riuh oleh gelak tawa dan sorak sorai. Bukan tanpa sebab. Ratusan peserta yang tergabung dalam PPGT Rayon 4 Klasis Kalaena, Wotu, dan Malili tengah larut dalam salah satu lomba paling menghibur: sambung lirik lagu.
Di bawah tenda sederhana bernuansa putih-kuning, peserta berdiri berderet, saling berhadapan, mencoba melanjutkan potongan lirik yang dilontarkan panitia. Sekilas terdengar mudah apalagi lagu yang digunakan bukan lagu asing, melainkan dari Kidung Jemaat yang hampir setiap minggu dinyanyikan dalam ibadah.
Namun kenyataannya jauh dari ekspektasi.
Beberapa peserta tampak percaya diri di awal, bahkan ikut bernyanyi lantang saat lirik pertama dilantunkan. Tapi begitu giliran mereka menyambung, suasana berubah. Ada yang terdiam, mengernyitkan dahi, bahkan saling melirik teman sekelompok berharap ada “bisikan penyelamat”. Tak sedikit pula yang justru salah lirik, memicu tawa panjang dari penonton.
“Ini lagu yang sering dinyanyikan, tapi kenapa tiba-tiba lupa?” celetuk salah satu penonton, disambut tawa peserta lainnya.
Momen paling menggelitik terjadi saat seorang peserta dengan penuh keyakinan melanjutkan lirik namun ternyata melompat ke bait yang berbeda. Bukannya mendapat poin, justru ia disambut tepuk tangan meriah karena keberaniannya yang “nyaris benar”.

Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang hangat. Tawa yang pecah bukan untuk mengejek, melainkan menjadi perekat sukacita di antara sesama pemuda gereja. Keceriaan terasa begitu alami, tanpa sekat, tanpa beban.
Di balik keseruan itu, terselip pesan sederhana namun bermakna: bahwa kedekatan dengan lagu-lagu rohani bukan hanya soal sering dinyanyikan, tetapi juga dihayati. Lomba ini secara tak langsung mengingatkan kembali akan pentingnya mengenal dan memahami setiap lirik yang selama ini dilantunkan dalam ibadah.
Paskah PPGT Rayon 4 tahun ini pun menjadi lebih hidup. Bukan hanya penuh makna spiritual, tetapi juga diwarnai tawa, keakraban, dan kenangan yang akan terus diingat oleh para peserta.
Dan dari semua keseruan itu, satu hal yang pasti, kadang yang paling sering dinyanyikan, justru yang paling mudah terlupakan saat diuji di depan banyak orang. (#)

