TOMONI TIMUR, wartabirokrasi.com— Pagi itu, Jumat (1/5/2026), udara di Desa Kertoraharjo, Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur, masih terasa segar saat puluhan warga mulai berkumpul di depan kompleks Pura Jagat Natha. Tanpa sekat, warga bahu-membahu menyisir rumput liar dan membersihkan saluran air di sepanjang jalan poros desa dalam balutan semangat “Jumat Bersih”.
Kegiatan rutin yang digalakkan di jalan poros depan pura ini bukan sekadar urusan kebersihan lingkungan. Di baliknya, tersimpan narasi kuat tentang kerukunan antarumat beragama dan dukungan kolektif terhadap program lingkungan hidup yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur.
Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme warga yang terdiri dari umat Hindu setempat dan masyarakat umum. Dengan menggunakan alat pemotong rumput, sapu lidi, dan cangkul, mereka membersihkan pelataran pura hingga bahu jalan utama. Kesan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat perdesaan tampak masih mengakar kuat di wilayah yang dikenal sebagai salah satu titik pemukiman transmigrasi yang sukses di Luwu Timur ini.
Kepala Desa Kertoraharjo, Made Sudarta, yang memimpin langsung jalannya aksi bersih-bersih tersebut, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kesadaran warga dalam menjaga estetika dan kenyamanan fasilitas publik, terutama di sekitar tempat ibadah.

“Ini adalah agenda rutin kami. Selain untuk menjaga keindahan kompleks Pura Jagat Natha sebagai ikon spiritual di desa kami, aksi ini juga menyasar jalan poros agar pengguna jalan merasa nyaman. Yang paling utama adalah bagaimana semangat gotong royong ini tetap terjaga di tengah masyarakat,” ujar Made Sudarta di sela-sela kegiatannya.
Lebih lanjut, Made Suarta menjelaskan bahwa aksi Jumat Bersih ini merupakan implementasi nyata dari instruksi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Luwu Timur selama ini memang gencar mendorong tiap desa untuk memiliki tata kelola lingkungan yang mandiri dan berkelanjutan.
Keterlibatan lintas elemen masyarakat dalam aksi ini juga menjadi potret kerukunan di Tomoni Timur. Meskipun kegiatan berpusat di area pura, warga dari berbagai latar belakang tampak hadir memberikan kontribusi. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai toleransi tumbuh subur melalui kerja-kerja sosial yang nyata di lapangan.
Seorang warga yang ikut serta menuturkan bahwa kegiatan seperti ini menjadi ruang silaturahmi yang efektif. “Kalau sudah pegang sapu atau alat potong rumput begini, semua sama. Tidak ada sekat. Kita ingin desa kita bersih, apalagi ini jalan protokol yang sering dilalui orang dari luar daerah,” ungkapnya.

Menjelang siang, wajah jalan poros depan Pura Jagat Natha nampak lebih lapang dan rapi. Rumput-rumput yang sebelumnya menutupi drainase telah dibersihkan. Aksi kecil dari Desa Kertoraharjo ini seolah mengirimkan pesan kuat: bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, dan gotong royong adalah energi yang menjaga denyut nadi persaudaraan tetap berdetak kencang di Bumi Batara Guru. (Red)

