Lutim,SULSEL-Halaman UPT SMP Negeri 1 Tomoni Timur, Kamis pagi, 21 Mei 2026, dipenuhi wajah-wajah yang menahan haru. Di bawah cuaca yang sedikit terik, 155 siswa kelas IX duduk berjejer rapi menunggu momen yang selama tiga tahun mereka bayangkan: yaitu penamatan dan perpisahan sekolah.
Tema yang diusung hari itu sederhana, tetapi terasa dekat dengan suasana yang hadir: Every Ending is A New Beginning.
Acara dimulai dengan tari Mappadendang. Denting gerak dan irama tradisi Bugis itu seolah menjadi penanda bahwa sekolah bukan hanya ruang belajar, tetapi juga tempat anak-anak bertumbuh bersama kebudayaan mereka sendiri. Setelahnya, tari To Manurung tampil menyambung suasana.
Namun puncak emosinya justru datang ketika para orangtua siswa naik ke panggung membawakan lagu Kemesraan. Sejumlah siswa tampak tersenyum sambil menunduk. Sebagian lain sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam. Lagu lama itu membuat suasana mendadak hangat dan akrab, seperti sebuah reuni keluarga besar.
Hari itu bukan hanya tentang pelepasan siswa. Sekolah juga meresmikan pembentukan Ikatan Alumni (IKA) SMPN 1 Tomoni Timur. Dalam forum alumni, I Made Sariana terpilih secara aklamasi sebagai ketua pertama.
Sejumlah pejabat daerah hadir, di antaranya Camat Tomoni Timur Yulius, Kapolsek Tomoni Timur Jefir Alang Ramba, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Luwu Timur Agus Salim, hingga Ketua Komite Sekolah I Wayan Silasa.
Tetapi yang paling menarik perhatian justru kehadiran para mantan guru dan kepala sekolah lama. Di antara mereka ada Aris Ruruk. Mereka datang bukan membawa sambutan panjang, melainkan sekadar menyapa murid-murid lama dan mengenang masa ketika sekolah itu masih jauh lebih sederhana.
Wakil Kepala Sekolah Duma dalam sambutannya mengatakan sekolah berharap para lulusan membawa nilai-nilai baik yang telah dipelajari selama tiga tahun terakhir.
“Bersama melangkah, meraih masa depan gemilang,” ujarnya singkat.
Sementara itu, Camat Tomoni Timur memilih berbicara tentang rumah dan keluarga. Menurut dia, sekolah tidak bisa bekerja sendirian membentuk karakter anak.
“Tugas guru itu mengajar, dan guru tidak bisa mengubah sikap siswa secara instan,” kata dia.
Camat Tomoni timur menyebut pendidikan adab dan karakter tetap bermula dari rumah. Sekolah, kata dia, hanya memperkuat pondasi yang telah dibangun orangtua.
“Kalau anaknya sudah baik di rumah, bisa dipastikan ia akan santun juga di sekolah,” ujarnya.
Di ujung acara, para siswa saling bersalaman. Ada yang tertawa lepas, ada pula yang diam sambil memeluk sahabatnya lebih lama dari biasanya.
Barangkali benar seperti tema yang mereka pilih hari itu bawha ” setiap perpisahan memang bukan akhir, melainkan awal perjalanan baru. (#_

