SUARA anak-anak bersahutan di Aula Kantor Desa Pattengko, Kecamatan Tomoni Timur, Sabtu siang, 16 Mei 2026. Sebagian masih mengenakan pakaian olahraga usai mengikuti Sabtu Sehat Juara (SSJ) di lapangan desa. Di sudut ruangan, beberapa remaja putri duduk sambil menggenggam tablet tambah darah yang baru saja dibagikan petugas kesehatan.
Hari itu bukan sekadar kegiatan Posyandu Remaja bulanan. Di hadapan bidan desa, kader PKK, dan petugas PLKB, anak-anak SD dan SMP itu mendapat “kelas kehidupan” langsung dari Camat Tomoni Timur, Yulius.
Mantan Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Luwu Timur itu tidak memulai dengan pidato resmi. Ia justru bertanya hal sederhana: siapa yang suka bermain game di telepon genggam. Beberapa anak tertawa malu-malu. Sebagian lainnya langsung mengangkat tangan. Dari situ percakapan mengalir santai.
Menurut camat, telepon genggam bisa menjadi alat belajar, tetapi juga dapat mencuri waktu anak-anak tanpa disadari. Ia mengingatkan mereka agar tidak terlalu larut bermain gim dan media sosial. “Tugas kalian itu belajar, bukan main game terus,” katanya. Nada bicaranya terdengar seperti orang tua yang sedang menasihati anak-anaknya sendiri.
Mantan jurnalis itu lalu berbicara tentang makanan ringan yang banyak dijual bebas. Anak-anak diminta tidak sembarangan membeli jajanan yang tidak sehat. Di usia mereka, kata dia, tubuh sedang bertumbuh dan membutuhkan makanan yang baik agar tetap sehat dan kuat. Di sela-sela penyuluhan kesehatan itulah para remaja putri menerima tablet tambah darah sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting sejak dini.
Namun suasana paling hidup muncul ketika camat mulai bertanya tentang cita-cita. Satu per satu anak berdiri. Ada yang ingin menjadi dokter, polisi, guru, atlet, ahli komputer, hingga operator alat berat. Seorang anak bahkan dengan percaya diri mengaku ingin menjadi juru bicara dalam bahasa Mandarin. Ruangan mendadak riuh oleh tepuk tangan dan tawa.
Ia tampak menikmati momen itu. Sebelum kegiatan berakhir, anak-anak diminta menulis cita-cita mereka lalu menempelkannya di dinding kamar. “Supaya setiap hari dibaca dan diingat,” ujarnya. Di aula sederhana desa itu, cita-cita anak-anak Pattengko terdengar begitu dekat, polos, sekaligus penuh harapan.

